Aku termasuk perempuan yang jarang sekali bercermin. Maklum, tidak seperti umumnya perempuan lain yang sangat concern dengan penampilan, aku termasuk mereka yang tergolong agak ignorant dengan masalah wajah dan penampilan. Makanya kalo pas aku dandan sering kali adik dan suamiku meledek, ‘tumben dandan’. Sering kali kalau memang muka sudah parah, jerawat mulai keluar dimana-mana dan kulit mulai kering, baru mulai rajin memperhatikan wajah. Dan kalau sedang beruntung punya duit, ke salon yang murah untuk cuci muka.
Banyak temanku yang bilang kalau aku tidak memperhatikan kepentingan suami karena tidak seberapa mengurus diri. Mereka bilang membahagiakan suami itu ibadah, jadi sebisa mungkin merawat diri supaya suami senang melihat. Aku bukannya tidak menerima argumen ini. Hanya saja sering aku perhatikan, kebanyakan para istri (hee dan ini termasuk aku juga), justru berdandan ketika hendak meninggalkan suami, misal ketika hendak kerja, shopping, arisan, pertemuan PKK, atau kondangan. Jadi aku meragukan kalau ada yang bilang merawat diri dan berhias untuk suami. Mungkin memang ada yang seperti itu, tapi aku yakin prosentaseku kecil.
Kembali ke masalah bercermin, baru saja aku melihat bayangan mukaku. Bukan di cermin, tapi di layar laptopku. Ketika hendak menghidupkan powernya, kulihat bayangan wajahku di laptop. Kulihat refleksi wajah ibuku sekitar dua puluh tahun yang lalu, berarti waktu itu aku kelas enam SD. Tapi wajah yang kulihat di layar laptopku tidak sepenuhnya seperti wajah ibuku yang selalu sejuk jika ditatap. Wajah itu terlihat agak ‘galak’ dan sedikit cemberut. Dan itu adalah refleksi wajahku.
Haa…aku tertawa sendiri. Ternyata aku sudah tua, tapi kok ya belum bisa mengendalikan diri. Anak boleh dua, muka boleh seperti ibunya, tapi tabiat masih seperti anak-anak saja. Astaghfirullah hal adzim.
Melihat wajahku yang semakin menua, dan mengingat betapa jiwaku belum dewasa, hah, aku mendesah. Banyak yang harus diperbaiki. Bukan saja penampakan wajah, tapi juga hati. Wajah harus diupayakan selalu cerah, dan hati diupayakan selalu meriah. Katanya suasana hati bisa terefleksikan lewat wajah. Kalo wajah kurang cerah berarti hati sedang gundah. OK lah, sudah saatnya berubah (mengquote power ranger, hee).
Akhirnya, mungkin ada benarnya jika para istri semestinya sering bercermin dan melihat wajah. Tapi bukan untuk menggusarkan munculnya jerawat atau kerutan di wajah. Akan tetapi lebih kepada melihat bahwa dengan melihat perubahan yang ada di wajah, kita semakin tahu kalau umur kian bertambah, dan kian mendekati tanah, dan saatnya untuk berubah dan menambah ibadah. Supaya kelak bisa mendapatkan Jannah. InsyaAllah.
